Translate

Minggu, 17 Februari 2013

Pengorbanan tanpa Mengharapkan Balasan

 

Kemarau telah berlalu dan kini musim hujan pun menjelang. Daun-daun mulai tumbuh dan pepohonan mulai menghijau setelah sekian lama meranggas seekor ulat merayap pelan di antara dedaunan. Tubuhnya bergoyang-goyang diterpa angin.

"Apa kabar daun hijau,"sapa ulat." Tersentak daun menoleh ke arah ulat dan bertanya. 

"Oh,, mengapa badanmu tampak kurus dan kecil begitu?"

"Aku hampir tidak mendapatkan daun untuk makananku selama musim kemarau. Apakah kau mau membantuku? "Tanya Ulat"

Jika daun memberikan sedikit saja tubuhnya untuk makanan si ulat,ia akan tetap hijau,tetapi akan tampak berlubang. Tak apalah,pikirnya. "Tentu,mendekatlah dan makanlah sebagian daunku sepuasmu."

Perlahan-lahan ulat menggerakkan tubuhnya mendekati daun. Setelah makan hingga kenyang,ulat berterima kasih. Seketika itu juga muncullah kepuasan daun.Sekalipun tubuhnya kini berlubang,tetapi ia bahagia dapat melakukan sesuatu bagi ulat kecil yang lapar. Selagi mampu membantu,ia akan melakukannya. Kelak ketika daun kering dan gugur,daun menyadari ia sudah tidak mampu membantu si ulat.

Tidak lama kemudian ketika musim panas datang,daun hijau menjadi kering dan berubah warna. Akhirnya ia pun jatuh ketanah,satu per satu disapu orang dan dibakar. Daun hijau itu kini memang telah tiada dan menjadi abu, tetapi ia telah mempersembahkan sesuatu yang berarti bagi si ulat sebelum kering dan di bakar orang.

                                                     ***

Apa yang bisa kita petik dari cerita daun dan ulat itu? Apa yang berarti dalam hidup kita sehinggap kita enggan berkorban sedikit saja bagi sesama? Daun rela melakukan sesuatu untuk ulatdan sejenak melupakan kepentingannya sendiri. Merelakan kesenangan dan kepentingan diri sendiri bagi orang lain memang tidak  mudah,tetapi indah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar