Translate

Selasa, 11 Oktober 2011

PENGORBANAN TANPA MENGHARAPKAN BALASAN

Kemarau panjang berlalu dan kini musim hujan pun menjelang. Daun daun mulai tumbuh dan pepohonan mulai menghijau setelah sekian lama meranggas seekor ulat merayap pelan di antara dedaunan. Tubuhnya bergoyang – goyang di terpa angin.
        “Apa kabar daun hijau,”sapa ulat.
        Tersentak, daun menoleh kearah ulat dan bertanya,”Oh, mengapa badanmu tampak kurus dan kecil begitu?”
        “Aku hampir tidak mendapatkan daun untuk makananku selama musim kemarau. Apakah kau mau membantuku?” Tanya ulat.
        Jika daun memberikan sedikit saja tubuhnya untuk makanan si ulat, ia akan tetap hijau, tetapi akan tampak berlubang. Tak apalah, pikirnya. “Tentu, mendekatlah dan makanlah sebagian daunku sepuasmu.”
        Perlahan – lahan ulat menggerakkan tubuhnya mendekati daun. Setelah makan hingga kenyang, ualat berterima kasih. Seketika itu juga muncullah kepuasan daun. Sekalipun tubuhnya kini berlubang, tetapi ia bahagia dapat melakukan sesuatu bagi ulat kecil yang lapar. Selagi mampu membantu, ia akan melakukannya. Kelak ketika daun kering dan gugur, daun menyadari ia sudah tidak mampu membantu si ulat.
        Tidak lama kemudian ketika musim panas dating, daun hijau menjadi kering dan berubah warna. Akhirnya ia pun jatuh ke tanah, satu per satu di apu orang dan di bakar. Daun hijau itu kini memang telah tiada dan menjadi abu, tetapi ia telah mempersembahkan sesuatu yang berarti bagi ulat sebelum kering dan dibakar orang.
***
Apa yang bisa kita petik dari cerita daun dan ulat itu? Apa yang berarti dalam hidup kita sehingga kita enggan berkorban sedikit saja bagi sesama? Daun rela melakukan sesuatu untuk kepentingan orang lain dan sejenak melupakan kepentingan sendiri. Merelakan kesenangan dan kepentingan diri sendiri bagi orang lain memang tidak mudah, TETAPI INDAH

Tidak ada komentar:

Posting Komentar