Kemarau panjang berlalu dan kini musim hujan pun menjelang. Daun daun
mulai tumbuh dan pepohonan mulai menghijau setelah sekian lama meranggas seekor
ulat merayap pelan di antara dedaunan. Tubuhnya bergoyang – goyang di terpa
angin.
“Apa kabar daun hijau,”sapa
ulat.
Tersentak, daun menoleh kearah
ulat dan bertanya,”Oh, mengapa badanmu tampak kurus dan kecil begitu?”
“Aku hampir tidak
mendapatkan daun untuk makananku selama musim kemarau. Apakah kau mau
membantuku?” Tanya ulat.
Jika daun memberikan
sedikit saja tubuhnya untuk makanan si ulat, ia akan tetap hijau, tetapi akan
tampak berlubang. Tak apalah, pikirnya. “Tentu, mendekatlah dan makanlah
sebagian daunku sepuasmu.”
Perlahan – lahan ulat
menggerakkan tubuhnya mendekati daun. Setelah makan hingga kenyang, ualat
berterima kasih. Seketika itu juga muncullah kepuasan daun. Sekalipun tubuhnya
kini berlubang, tetapi ia bahagia dapat melakukan sesuatu bagi ulat kecil yang
lapar. Selagi mampu membantu, ia akan melakukannya. Kelak ketika daun kering
dan gugur, daun menyadari ia sudah tidak mampu membantu si ulat.
Tidak lama kemudian
ketika musim panas dating, daun hijau menjadi kering dan berubah warna. Akhirnya
ia pun jatuh ke tanah, satu per satu di apu orang dan di bakar. Daun hijau itu
kini memang telah tiada dan menjadi abu, tetapi ia telah mempersembahkan
sesuatu yang berarti bagi ulat sebelum kering dan dibakar orang.
***
Apa yang bisa kita petik dari cerita daun dan ulat itu? Apa yang berarti
dalam hidup kita sehingga kita enggan berkorban sedikit saja bagi sesama? Daun rela
melakukan sesuatu untuk kepentingan orang lain dan sejenak melupakan
kepentingan sendiri. Merelakan kesenangan dan kepentingan diri sendiri bagi
orang lain memang tidak mudah, TETAPI INDAH
Tidak ada komentar:
Posting Komentar